Analitis: Hukum Simbol Peradaban

Karya : Rahma Nurhaliza Putri

Di tengah hegemoni hukum sebagai alat kekuasaan
Dalam cita mewujudkan kebahagiaan.
Ia hadir sebagai mahkota peradaban,
namun kerap menjelma wajah kekuasaan.


Ucapnya, hukum harus ada untuk melegitimasi kuasa,
Tapi tak ada hukum tanpa sang penguasa.
Relasi itu membentuk lingkar tak terputus,
antara norma dan tahta yang berkuasa.


Ucap si positiv, tanpa hukum suatu kekuasaan akan menjadi nestapa.
Namun karna si positiv, moral pun tereduksi, berubah menjadi formalitas belaka.

Antara keadilan, kepastian, dan kebermanfaatan,
entah mana yang harus menjadi tujuan.
Tiga wajah nilai itu berdiri sejajar,
namun saling menuntut penentuan.


Saling mendegasikan bukanlah jawaban,
antinomi adalah fakta di lapangan.
Dalam praktik yang riil, teori bertemu realitas penuh pertentangan.


Kungkungan “semua harus dituliskan”
melahirkan dilema formalistik dalam penataan.
Berhasil menjadikan hukum sekadar teks kaku,
jauh dari denyut kemanusiaan.


Antara pasti atau tidak pasti,
antara kaku atau luwes dalam penerapan.
Hukum bukan sekadar tulisan di lembar-lembaran,
melainkan pergulatan nilai dalam peradaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *