Tumbangkan Mantan Juara Dunia, Mahasiswa FH Unsri Sabet Medali Perak di Manila

LPM Media Sriwijaya– Berangkat ke Filipina tanpa satu pun rekan setim dan harus mengurus segala kebutuhannya sendiri, Timothy Otniel Adi Krista, mahasiswa angkatan tahun 2024 Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (FH Unsri), justru pulang dengan medali perak dari Asian and Oceania Sambo Championship 2026. Ajang bergengsi yang berlangsung pada 24–28 Juni 2026 di Manila, Filipina, itu menjadi panggung pembuktian bagi atlet Tim Nasional Indonesia ini. Capaiannya menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Unsri tidak hanya unggul di akademik, tetapi juga mampu bersaing dan mengharumkan nama bangsa di tingkat Asia dan Oseania.
Dari Ring Tinju ke Matras Sambo
“Awalnya saya tidak langsung ke Sambo. Waktu SMA, saya mulai dari ikut tinju dulu” ujar Timothy pada saat wawancara bersama LPM Media Sriwijaya, Selasa (30/6/2026). Ia menceritakan pada 2022, seorang guru olahraga yang merupakan mantan atlet gulat melihat potensi dalam dirinya dan mengarahkannya untuk beralih ke gulat. Berbekal kemampuan dasar striking yang sudah ia miliki dari tinju, Timothy kemudian diperkenalkan kepada pelatih sambo yang hingga kini masih membimbingnya secara intensif di olahraga bela diri campuran tersebut.
Kerja keras dan konsistensi Timothy mulai membuahkan hasil sejak 2023, di mana ia secara rutin meraih prestasi di berbagai kejuaraan nasional. Puncaknya terjadi pada 2025, ketika ia berhasil keluar sebagai Juara 1 Nasional. Gelar bergengsi tersebut menjadi tiket emas baginya untuk bergabung dengan Tim Nasional Indonesia. Sejak resmi menyandang status atlet nasional, Timothy pun mulai dipercaya untuk membawa bendera Merah Putih dalam berbagai kompetisi internasional, termasuk ajang Asian and Oceania Sambo Championship 2026 yang menjadi target utamanya.
Untuk menghadapi kejuaraan tingkat Asia dan Oseania tersebut, Timothy menjalani persiapan fisik dan mental yang sangat matang. Sejak 2024, ia menerapkan jadwal latihan super ketat, yakni berlatih sebanyak tiga kali dalam sehari dan hanya mengambil satu hari istirahat pada Minggu. Intensitas tersebut ia jalani dengan penuh disiplin di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, membuktikan bahwa manajemen waktu yang baik menjadi kunci utama kesuksesannya. Dengan bekal latihan maksimal dan tekad membara, Timothy pun bertolak ke Filipina untuk menantang para atlet terbaik se-Asia dan Oseania.
Perjalanan Timothy di Manila ternyata tidak berjalan mulus sejak awal. Ditengah kendala yang dihadapi kontingen indonesia, ia harus menjalani seluruh rangkaian laga dan aktivitas di Filipina sendirian, tanpa pendamping ataupun dukungan langsung dari tim. Selama berada di sana, Timothy harus menjalani seluruh rangkaian kegiatan secara mandiri, mulai dari berkoordinasi dengan panitia, mengatur kebutuhan selama berada di filipina, hingga memastikan seluruh agenda pertandingan dapat dijalani dengan baik, semuanya ia lakukan sendiri. Kendati begitu, keadaan tersebut tak sedikit pun mengendurkan tekad dan fokusnya untuk tampil maksimal demi Merah Putih.
Justru di tengah keterbatasan itulah Timothy mengukir salah satu momen paling berkesan sepanjang kariernya. Ia mampu menumbangkan seorang lawan yang sebelumnya pernah menyandang predikat juara dunia. Kemenangan itu bukan sekadar hasil di atas matras, melainkan menjadi titik balik sekaligus penyulut semangat baginya selama berlaga di Asian and Oceania Sambo Championship 2026. Lewat kerja keras, kedisiplinan, serta mental juara yang terasah, Timothy akhirnya membawa pulang medali perak, sebuah pencapaian yang tidak hanya membanggakan secara pribadi, tetapi juga turut mengangkat nama Indonesia di kancah Asia dan Oseania.
Menjalani peran ganda sebagai atlet sekaligus mahasiswa, Timothy mengaku banyak terbantu oleh dukungan yang diberikan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya dan Universitas Sriwijaya atas keterlibatannya di berbagai ajang olahraga. Menurutnya, dukungan semacam ini menjadi salah satu kunci yang memungkinkan dirinya terus berkembang, baik di ranah akademik maupun di luar itu. Ia menilai bahwa kolaborasi antara kampus dan mahasiswa berprestasi sangat dibutuhkan agar semakin banyak anak muda Indonesia yang siap bersaing di panggung nasional bahkan dunia.
Timothy pun berharap capaian di bidang olahraga nonakademik ke depan bisa mendapat porsi perhatian dan apresiasi yang lebih layak. Ia menyoroti bahwa seorang atlet kerap baru dilirik ketika sudah menembus level dunia, padahal untuk sampai ke titik itu dibutuhkan proses panjang yang penuh pengorbanan dan kedisiplinan tinggi. Medali perak yang ia sabet di Asian and Oceania Sambo Championship 2026 sekaligus menjadi penegas bahwa mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya tidak hanya piawai di ruang kuliah, tetapi juga mampu bicara banyak di pentas internasional. Ia berharap keberhasilan ini bisa menjadi pemantik bagi mahasiswa lain untuk terus berjuang, mengasah potensi, dan tak ragu membawa nama Indonesia melangkah lebih jauh.
Penulis: Nazwa Ayu Meilani & Mutiara Kezia M. Sitindoan
Reporter: Kheinizya Grace Joice Sianipar

