Dua Wajah Krisis Lingkungan di Indonesia, Menjaga Paru-Paru Nusantara antara Deforestasi dan Kualitas Udara

Indonesia merupakan negara kepulauan tropis terbesar di dunia yang sejak lama dikenal dengan kekayaan hayati dan lanskap hutan menakjubkan. Namun, seiring waktu pujian atas kehijauan negeri ini makin sering dibarengi dengan keprihatinan. Krisis lingkungan kini bukan lagi sebuah ancaman jauh di depan mata tetapi sudah hadir di depan pintu rumah kita.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bahwa sepanjang tahun 2024, Indonesia mengalami deforestasi seluas 261.575 hektare. Sebagian besar terjadi di hutan sekunder namun tetap membawa dampak ekologis yang besar. Ironisnya, daerah yang dulu dikenal sebagai “ Kalimantan lambang paru-paru dunia” malah mencatat deforestasi tertinggi selama sebelas tahun berturut-turut. Sumatera mengikuti di belakangnya. Dengan laju ini mengakibatkan Indonesia tak hanya kehilangan tutupan hijau akan tetapi melepaskan potensi besar karbon yang sebelumnya tersimpan di dalam tanah dan pohon-pohon tua ke atmosfer.

Di Balik Angka, Tentang Apa yang Sebenarnya Kita Hilangkan?

Setiap hektare hutan yang hilang bukan sekadar berkurangnya luas hijau di peta. Ia adalah ekosistem yang berisi ribuan spesies flora dan fauna dengan banyak di antaranya endemik dan belum sempat diteliti. Ketika habitat mereka rusak maka tak sedikit yang punah diam-diam. Beberapa hanya bisa kita lihat dalam rekaman dokumenter, tanpa pernah hadir nyata di depan mata.

Deforestasi juga memicu degradasi tanah, kekeringan, dan banjir bandang. Ketika akar-akar pohon besar tak lagi menahan air, limpasan hujan langsung mengalir deras ke hilir, membawa lumpur dan material tanah yang menyebabkan sedimentasi sungai dan menenggelamkan lahan pertanian warga. Perubahan iklim global merupakan isu internasional ternyata juga punya akar lokal dari pohon-pohon yang ditebang satu demi satu.

Yang lebih memprihatinkan dari hal ini adalah banyak deforestasi dilakukan dengan cara pembakaran lahan. Praktik ini yang masih jamak terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan selama bertahun tahun dengan dampak yang tak hanya merusak tanah tapi juga menciptakan kabut asap pekat. Setiap musim kemarau ratusan ribu warga harus menghirup udara yang tercemar. Anak-anak terpaksa belajar dengan masker dan rumah sakit dipenuhi penderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Krisis Udara di Kota merupakan Ancaman Sunyi yang Mematikan

Jika di pedalaman kita bicara soal deforestasi maka di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Medan terdapat isu lingkungan mengambil rupa lain yaitu kualitas udara. Berdasarkan data dari IQAir, Jakarta beberapa kali menduduki peringkat pertama kota dengan polusi udara terburuk di dunia selama 2023 dan 2024. Partikel PM2.5 merupakan mikropartikel berbahaya yang bisa menembus paru-paru hingga aliran darah telah melampaui batas aman WHO berkali-kali lipat.

Sayangnya polusi udara adalah ancaman sunyi. Tak terlihat kasat mata tapi berdampak luar biasa besar. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa polusi udara bertanggung jawab atas sekitar 7 juta kematian dini di seluruh dunia setiap tahun. Di Indonesia riset dari Vital Strategies dan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI pada 2023 menunjukkan bahwa polusi udara menyumbang hampir 123 ribu kematian dini per tahun. Itu artinya ada lebih dari 300 nyawa hilang setiap harinya hanya karena udara yang kita hirup.

Emisi kendaraan pribadi, pembangkit listrik berbasis batu bara, serta pembakaran sampah terbuka menjadi penyumbang utama. Namun kebijakan belum cukup progresif untuk mengatasi masalah ini. Transportasi umum masih belum menjangkau banyak wilayah dan budaya “satu orang satu kendaraan” tetap kuat di tengah masyarakat urban. Sementara itu regulasi kualitas udara masih lemah disertai dengan pemantauan belum dilakukan secara menyeluruh di seluruh wilayah kota besar.

Mengapa Kesadaran Tak Juga Terbangun?

Pertanyaan terbesar dalam isu lingkungan di Indonesia adalah mengapa di tengah krisis yang nyata, kesadaran publik masih rendah?

Sebagian jawabannya terletak pada narasi besar yang tak dibumikan. Isu lingkungan sering dipersepsi sebagai domain para akademisi atau aktivis. Padahal dalam pandangan nyata ini adalah isu dapur, kamar tidur, dan paru-paru kita. Banyak orang merasa tidak terdampak secara langsung hingga kabut asap menyelimuti sekolah anaknya atau napas orang tua tersengal karena udara yang makin kotor.

Media dan pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kolektif. Kita butuh lebih banyak cerita yang membumi bukan sekadar data dan jargon teknis. Cerita tentang petani yang gagal panen karena musim tak menentu. Tentang ibu rumah tangga yang harus membeli galon air karena sumur mereka mengering. Atau tentang anak-anak kota yang tak tahu wujud asli pohon jati, karena semua digantikan beton dan papan reklame.

Solusi Dari Kebijakan hingga Gaya Hidup

Mengatasi krisis lingkungan memerlukan pendekatan lintas sektor. Di tingkat kebijakan, pemerintah perlu lebih tegas dalam penegakan hukum terhadap pembakaran hutan dan aktivitas tambang ilegal. Skema insentif untuk industri yang beralih ke energi hijau harus diperluas. Transportasi publik harus menjadi prioritas utama bukan sekadar pelengkap proyek kota pintar.

Di sisi lain peran masyarakat tidak bisa dikecilkan. Perubahan gaya hidup seperti beralih ke transportasi massal, mengurangi konsumsi plastik, serta memilih produk ramah lingkungan bisa membawa dampak besar jika dilakukan secara kolektif. Sekolah dan kampus juga bisa menjadi pusat edukasi lingkungan yang bukan hanya teoritis tapi aplikatif.

Kita juga perlu mendorong keterlibatan sektor swasta. Perusahaan tidak boleh hanya berhenti di kampanye “hijau” tanpa audit dan transparansi. Konsumen berhak tahu bagaimana produk yang mereka beli diproduksi—apakah dengan merusak lingkungan atau tidak.

Waktu Kita Sudah Hampir Habis

Kita sedang berlomba dengan waktu. Hutan Indonesia tidak akan menunggu kita sadar. Udara kota tidak akan tiba-tiba membaik. Jika tak segera berubah akibatnya kita bukan hanya akan kehilangan paru-paru dunia tapi juga masa depan anak cucu kita.

Menjaga lingkungan bukan sekadar tanggung jawab moral tetapi itu adalah bentuk strategi bertahan hidup manusia selama ribuan tahun. Dan itu harus dimulai kembali dari sekarang, dimulai dari kita, untuk generasi kita dimasa depan.

Ferco Arvian

orang gabut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *