Mahasiswa dan Makanan
Dalam menjalankan kehidupan sebagai mahasiswa diperlukan tindakan yang serba cepat karena penuh dengan tekanan, atas hal tersebut sering kali pilihan makanan menjadi cerminan dari gaya hidup yang padat dan ketat tersebut. Berbagai tekanan akademik seperti tugas yang menumpuk, jadwal kuliah yang padat, aktivitas non akademik yang sering kali tidak ada habisnya atau dalam artian tidak terkontrol dengan baik menyebabkan banyak mahasiswa yang terpaksa untuk memilih makanan praktis yang mudah diakses.
Namun hal tersebut pasti akan mengabaikan banyak hal pening dari sisi kesehatan, protein, serat, ataupun nilai gizi lainnya dengan pikiran yang terfokus yang penting makan, dapat mengenyangkan perut dan tidak dari hal yang buruk seperti makanan basi, rusak atau semacamnya. Atas dasar itulah kemudian menjadi ironi, ditengah gempuran teknologi informasi yang berkembang pesat. Bukan hanya memberikan kemudahan akses terhadap berbagai hal termasuk jenis makanan dan kecepatan dan kemudahan mendapatkannya tetapi pola makan sehat tersebut justru tetap menjadi tantangan tersendiri.
Di samping itu, keteraturan dan kepastian waktu untuk makan dan mengelola makanan tersebut juga tidak luput dari permasalahan sulit yang dihadapi mahasiswa. Diakibatkan kurangnya keterampilan dalam manajemen waktu mengakibatkan ketidakteraturan yang pasti bahkan pada level terendah seperti jadwal waktu makan. Hal ini akan menyebabkan ketidakseimbangan dan berpotensi memberikan dampak negatif dalam jangka panjang. Maka dari itu setidaknya ada beberapa alasan kenapa mahasiswa memilih cara praktis dan cepat tersebut walaupun dengan berbagai dampaknya.
- Keterbatasan
Yang pertama sebagai salah satu alasan utama mengapa mahasiswa cenderung memilih makanan cepat saji atau makanan instan adalah karena keterbatasan baik dari sisi waktu maupun dari segi keuangan atau anggaran yang tersedia. Tidak dapat dipungkiri dua hal tersebut merupakan bentuk keterbatasan yang hampir dirasakan sebagian dari mahasiswa, bisa dua duanya ataupun salah satunya.
Keterbatasan waktu adalah akibat dari kemampuan manajemen waktu yang tidak optimal karena pengaturan antara kegiatan akademik, non akademik dan pribadi tidak terkoordinasi dengan baik. Akibatnya banyak mahasiswa yang merasa atau setidaknya beranggapan bahwa tidak memiliki waktu atau cukup waktu untuk memasak makanan sehat, memilih makanan sehat, mencari real food yang membuatnya memerlukan waktu yang tidak sedikit.
Alasan yang kedua yaitu keterbatasan anggaran, memang tidak sedikit mahasiswa yang pada dasarnya terkendala dari sisi keuangan pada saat melaksanakan perkuliahan. Biaya hidup yang tinggi seperti kos atau tempat tinggal, biaya untuk akomodasi tempat tinggal tersebut, pengeluaran akademik, dan semacamnya menciptakan pilihan terbatas tentang apa yang dapat dikorbankan untuk menjaga kemampuan finansial.
Salah satunya adalah makanan, makanan yang murah cenderung lebih dipilih dengan tidak memilah ataupun memilih apa yang didapat maupun bagaimana hal tersebut dibuat apalagi jika melihat dari sisi gizinya. Hal ini lah yang menjadi salah satu alasan kenapa keterbatasan menjadi penyebab pola makan dan jadwal yang tidak seimbang akan menimbulkan potensi yang berdampak negatif terhadap kesehatan dalam jangka panjang seperti asam lambung, iritasi lambung dan semacamnya pada mahasiswa.
- Kesadaran
Penting untuk membangun kesadaran kolektif bagi mahasiswa terhadap pentingnya pola makan yang sehat. Tindakan yang saling mendukung satu sama lain dalam memilih makanan yang baik, pengingat yang bijak, dan seterusnya akan menciptakan budaya kuliner positif di kalangan kelompok kelompok mahasiswa.
Melalui berbagai diskusi di platform media sosial ataupun kelompok mahasiswa dapat berbagai resep sehat, tips memasak, atau bahkan kulineran diberbagai tempat bersama sama. Hal tersebut akan memungkinkan untuk menciptakan inovasi dalam penyajian makanan yang dapat menarik mahasiswa seperti menu sehat di akntin kampus dengan harga terjangkau, pengadaan acara memasak, ataupun pengenalan resep resep sederhana yang bergizi namun cepat.
Dengan cara tersebut kesadaran mahasiswa akan terbentuk sehingga dapat lebih belajar untuk menghargai makanan sehat sekaligus menikmati pengalaman sosial antar individu dalam mengatasi berbagai permasalahan.
- Edukasi
Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu untuk ditekankan bagaimana gizi dan pola makan yang baik teredukasi dengan baik kepada mahasiswa. Sehingga bukan hanya dapat menyadari dampak jangka panjangnya tetapi juga akan berpengaruh terhadap kesehatan mental dan fisik dari tiap individu tersebut.
Kampus harus berperan aktif dalam menjadi motor penggerak program tersebut melalui penyelenggaraan seminar atau workshop tentang nutrisi, penyediaan informasi tentang pilihan makanan, cara mengatur jadwal pola makan dan seterusnya.
Selanjutnya akan mengurangi kecenderungan mahasiswa terhadap makanan praktis yang terlalu cepat saji dengan akses layanan yang semakin mudah ditengah era digital. Godaan berbagai pilihan makanan menarik dan murah namun sering kali tidak sehat tersebut akan menurun secara signifikan jika edukasi yang diberikan berjalan secara efektif, efisien dan masif.
Berdasarkan penjabaran tersebut permasalahan tentang makanan mahasiswa adalah cerminan dari tantangan yang dihadapi oleh generasi muda saat ini. Kompleksitas yang dihadapi ditengah gempuran kemudahan yang diberikan oleh teknologi tidak selalu berdampak baik dalam pandangan jangka panjang.
Meskipun terdapat keterbatasan waktu, anggaran, dan seterusnya yang menjadi hambatan dapat diatasi dengan keterampilan serta kemampuan yang relevan melalui edukasi yang baik. Edukasi yang diberikan secara formal oleh pendidikan maupun non formal seperti kelompok diskusi. Karena penting bagi mahasiswa untuk menyadari bahwa pilihan makanan yang sehat merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan dan kedisiplinan tiap individu dimasa depan.
Dengan edukasi gizi, inovasi dalam pilihan makanan, yang dihasilkan dari kesadaran kolektif akan membawa dampak signifikan terhadap pola yang telah menjadi budaya pada mahasiswa saat ini tanpa mengorbankan kenyamanan ataupun rasa. Sudah saatnya bagi kita semua untuk mendorong generasi kita, generasi dibawah kita, para generasi muda untuk mengambil langkah langkah kecil yang berorientasi pada gaya hidup yang lebih seaht melalui pilihan makanan yang bijak.

