Luka dan Suara yang Menolak Padam

Karya: Agnes Rosana
Di bawah langit hukum, tinta menyalakan suara,
Ia menulis fakta di atas lembar yang jujur,
Meski ancaman datang meredam cahaya bicara,
Kebenaran tetap berdiri, tak pernah mundur.
Air keras disiram, membakar wajah dan harapan,
Luka menganga di tubuh yang setia bersaksi,
Namun nyala nurani tak ikut tenggelam dalam ancaman,
Wajah bisa hangus, namun kebenaran tak berkulit untuk disakiti.
Pasal demi pasal terpatri dalam kitab keadilan,
Menjanjikan lindungan bagi suara yang terluka,
Namun kadang hukum terlambat membaca penderitaan,
Saat jerit sunyi tertutup dinding kuasa.
Di ruang sidang, palu menunggu waktu berbicara,
Menggantung di antara bukti dan nurani,
Apakah hukum berani menegakkan terang kebenaran,
Atau diam membiarkan luka menjadi sepi?
Namun kebenaran tak larut dalam cairan kebencian,
Ia menjelma api dalam setiap kata yang hidup,
Hukum sejati berdiri bukan hanya pada peraturan,
Melainkan pada keberanian menjaga yang benar tetap teguh.

